Kaedah Pembelajaran Kontekstual

APAKAH yang dimaksudkan dengan kontekstual dan apalah pula keistimewaan kaedah kontekstual? Kontekstual jika diambil daripada ayat asalnya dalam Bahasa Inggeris (asal bahasa Latin con = with + textum = woven) bermaksud mengikut konteks atau dalam konteks. Konteks pula membawa maksud keadaan, situasi dan kejadian. Secara umum, kontekstual membawa pengertian: 1. Yang berkenaan, releven, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikut konteks. 2. Yang membawa maksud, makna dan kepentingan (meaningful). Oleh itu, kaedah kontekstual iaitu kaedah yang dibentuk berasaskan maksud kontekstual itu sendiri, seharusnya mampu membawa pelajar ke matlamat pembelajaran isi dan konsep yang berkenaan atau releven bagi mereka, dan juga memberi makna dalam kehidupan seharian mereka. Kebanyakan pelajar di sekolah tidak mampu membuat kaitan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan itu dapat dimanfaatkan. Ini berlaku oleh sebab cara mereka memproses maklumat dan perasaan motivasi untuk pelajar tidak tersentuh melalui kaedah pengajaran yang lazim digunakan (iaitu kaedah syarahan yang abstrak), namun mereka amat perlu memahami konsep itu untuk memudahkan mereka mengaitkannya dengan suasana dan juga dalam menempuh kehidupan masyarakat di mana tempat mereka menjalani kehidupan dan bekerja. Secara lazimnya, pelajar dijangkakan mampu membuat kaitan ini dengan sendiri apabila berada di luar bilik darjah. Pendekatan kontekstual menyedari hakikat bahawa pembelajaran ialah satu proses pelbagai bentuk yang kompleks yang menjangkau melepasi kaedah-kaedah jenis latih tubi dan rangsangan dan tindak balas. Menurut teori pembelajaran kontekstual, pembelajaran hanya berlaku apabila pelajar memproses maklumat atau ilmu pengetahuan baru dengan cara tertentu sehingga ia membawa maksud atau makna kepada mereka dalam kerangka rujukan mereka sendiri (dunia dalaman bagi memori, pengalaman dan tindak balas mereka sendiri). pendekatan pembelajaran dan pengajaran seperti ini mengandaikan minda akan mencari maksud dalam konteks dengan cara semula jadi, iaitu berkait dengan persekitaran semasa seseorang itu. Ini berlaku dengan cara pencarian hubungan yang diterima akal dan kelihatan bermakna. terbentuk daripada pemahaman ini, teori pembelajaran kontekstual tertumpu pada aspek pelbagai bagi mana-mana persekitaran pembelajaran, sama ada dalam bilik darjah, dalam makmal, dalam makmal komputer, tampat atau lokasi kerja, atau di ladang tanaman. Ia menggalakkan pendidik memilih dan/atau membina persekitaran pembelajaran yang menggabungkan seberapa banyak bentuk pengalaman yang boleh termasuk aspek sosial, fizikal, psikologikal, ke arah mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Dalam persekitaran sedemikian, pelajar menemui perhubungan yang bermakna antara idea abstrak dan aplikasi praktikal dalam konteks alam yang nyata. Konsep dihayati melalui proses penemuan, pengukuhan dan menghubungkaitkan. Contohnya, pelajar yang mengikuti satu pelajaran Fizik berkenaan tajuk Pengkonduksian Terma mungkin mengukur bagaimana kualiti dan amaun bahan pendebat bangunan mempengaruhi jumlah tenaga yang diperlukan untuk menyejuk atau memanaskan bangunan itu. Satu kelas Biologi atau Kimia mungkin sedang mempelajari konsep saintifik asas dengan mempelajari penyebaran AIDS atau cara bagaimana peladang menghadapi dan menyumbang kepada kemerosotan persekitaran. Pengajaran-pembelajaran kontekstual merupakan satu konsepsi pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan subjek yang dipelajari dengan situasi dunia sebenar dan memotivasikan pelajar untuk membuat perkaitan antara pengetahuan dengan aplikasinya dalam kehidupan harian mereka sebagai ahli keluarga, warga masyarakat dan pekerja A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment). Pembelajaran Kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. B. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional Kontekstual Ø Menyandarkan pada pemahaman makna. Ø Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa. Ø Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Ø Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan. Ø Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Ø Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang. Ø Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok). Ø Perilaku dibangun atas kesadaran diri. Ø Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. Ø Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. yang bersifat subyektif. Ø Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan. Ø Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik. Ø Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting. Ø Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik. Tradisional Ø Menyandarkan pada hapalan. Ø Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru. Ø Siswa secara pasif menerima informasi, khususnya dari guru. Ø Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, tidak bersandar pada realitas kehidupan. Ø Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan. Ø Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu. Ø Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan (kerja individual). Ø Perilaku dibangun atas kebiasaan. Ø Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan. Ø Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor. Ø Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman. Ø Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik. Ø Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas. Ø Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan. C. Komponen-Komponen Pembelajaran Kontekstual Konstruktivisme Ø Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal. Ø Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. Inquiri Ø Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. Ø Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis. Questioning (bertanya) Ø Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Ø Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry. Learning Community (Masyarakat Belajar) Ø Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar. Ø Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri. Ø Tukar pengalaman dan barbagi. Modeling (Permodelan) Ø Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar. Ø Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya. Reflection (refleksi) Ø Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari. Ø Mencatat apa yang telah dipelajari. Ø Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya) Ø Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. Ø Penilaian produk (kinerja). Ø Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual. D. Pemikiran tentang belajar Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut. 1. Proses belajar Ø Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan di benak mereka. Ø Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.. Ø Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan. Ø Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Ø Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru. Ø Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Ø Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang. 2. Transfer Belajar Ø Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain. Ø Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit) Ø Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu 3. Siswa sebagai Pembelajar Ø Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru. Ø Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting. Ø Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui. Ø Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. 4. Pentingnya Lingkungan Belajar Ø Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan. Ø Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. Ø Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar. Ø Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. E. Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya : 1. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik 2. kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. 3. Ciptakan masyarakat belajar. 4. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran 5. Lakukan refleksi di akhir pertemuan 6. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara Tujuan dari penerapan dan pendekatan pembelajaran konstektual adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan pemahaman makna materi pelajaran yang dipelajari dengan mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sebagai individual, anggota keluarga, anggota masyarakat dan anggota bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut, sejumlah hasil yang diharapkan dalam penerapan pendekatan pembelajaran konstektual, diantaranya adalah : 1. Guru yang berwawasan. 2. Materi dalam pembelajaran. 3. Stategi metode dan teknik belajar mengajar. 4. Media pendidikan 5. Fasilitas 6. Proses belajar mengajar 7. Kancah pembelajaran 8. Penilaian 9. Suasana. Mengaplikasi Pembelajaran Kontekstual Melihat sambutan para penziarah laman sesawang ini kepada tajuk Mengaplikasi Pembelajaran Masteri maka aku rasa terpanggil untuk menunjukkan contoh pengaplikasian kaedah-kaedah pengajaran dan pembelajaran (P&P) yang lain. Oleh itu kali ini aku pilih tajuk Mengaplikasi Pembelajaran Kontekstual pula. Aku berharap para guru semua mendapat manfaat dari pendedahan ini. Pembelajaran Kontekstual menggabungkan konsep yang diperolehi dalam kajian Sains Kognitif (the science of the mind) dengan teori-teori tingkah laku (behavioral theories). Pendekatan secara kontekstual mendapati bahawa pembelajaran adalah proses kompleks yang melangkaui latih tubi dan stimulus gerakbalas. Pembelajaran Kontekstual adalah termasuk dalam pendekatan Pembelajaran Berfikrah yang dikehendaki oleh Kementerian Pelajaran Malaysia untuk dilaksanakan semasa P&P. Mengikut teori Pembelajaran Kontekstual, pembelajaran hanya akan berlaku apabila pelajar memperoleh pengetahuan baharu yang bermakna kepada mereka. Oleh itu proses pembelajaran akan berlaku lebih cepat apabila minda pelajar melihat perkaitan yang bermakna dan kelihatan berguna terhadap apa yang dipelajari. Pembelajaran Kontekstual adalah pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan harian murid-murid. Pelajar belajar secara menyiasat dan kaitan antara bahan yang diajar dengan pengalaman kehidupan seharian dizahirkan. Murid tidak belajar secara teori sahaja tetapi dapat menghayati relevennya apa yang dipelajari dengan kehidupan mereka. Pembelajaran Kontekstual (PK) berlaku dalam lima konteks, seperti berikut:- Relating (menghubungkait) Belajar secara konteks dengan pengalaman hidup. Experiencing (mengalami) Belajar secara konteks melalui penerokaan, penemuan dan merikacipta. Applying (menggunakan) Belajar secara konteks bagimana pengetahuan atau maklumat sedia ada boleh diguna untuk masa depan. Cooperating (berkerjasama) Belajar secara konteks perkongsian, memberi respons dan berkomunikasi. Transfering (memindahkan) Belajar secara konteks dengan membina dan menggunakan pengetahuan sedia ada dalam diri pelajar. Kelima-lima konteks ini boleh di acronim menjadi REACT. Untuk memudahkan amalan dalam kelas kita tumpukan P&P kita kepada perkara yang berkait dengan Hands On dan juga kaitan dengan kehidupan harian. Contoh-contoh P&P Sains yang releven dengan PK. Mengajar perubahan fasa jirim. Jirim berubah dari satu fasa ke fasa lain melalui perubahan haba dalam jirim itu. Jrim berubah dari pepejal ke cecair pada takat lebur dan cecair ke gas pada takat didih. Konsep ini mudah diajar kalau guru mengaitkan pengalaman murid di dapur rumah mereka. Pengalaman murid menggunakan peti ais dan juga menjerang air. Air terkondensasi dibawah tudung periuk nasi. Mengajar ciri imej cermin satah. Pengalaman seharian murid menghadap cermin muka. Sambil mengingatkan ciri-ciri imej yang mereka lihat dalam cermin satah itu. Antara ciri imej yang ada ialah sama saiz, maya, tegak, songsang sisi dan jarak objek dan imej adalah sama. Sambil bergaya didepan cermin sambil murid mengingatkan ciri imej itu. Dalam pendidikan Islam labih mudah terutama dalam mengajar perkara yang berkait dengan wuduk, solat, puasa dan lain-lain lagi. Dalam Sains Pertanian, Tanaman Makanan dan ERT murid-murid sememangnya di ajar berkaitan dengan pengalaman, menggunakan, berkerjasama dan memindahkan segala yang dipelajari secara Hands On. Banyak lagi contoh-contoh lain yang boleh diambil dan difikirkan. Pentingnya berkait dengan Peperiksaan Sains SPM. Terdapat beberapa soalan dalam kertas dua Sains (1511/2) 2008, yang menggunakan pengalaman kehidupan seharian sebagai asas soalan. Contohnya, Soalan B5(d) aktiviti yang melibatkan reseptor regang. Soalan B7 yang berkaitan dengan pencemaran alam sekitar. Soalan B8 yang berkait dengan kebijakan pengguna dalam membeli. Soalan C11(b) menyelesaikan masalah kawasan perumahan yang diserang demam denggi dan Soalan C12(b) membuat keputusan dalam memilih kenderaan paling selamat digunakan. Saranan Pakar Rujuk AQA Guildford, England. Semasa aku berkursus selama 10 hari di AQA Guildford tentang membina soalan peperiksaan, kami peserta kursus diingatkan agar membanyakkan soalan yang berbentuk kontekstual dalam hubungan kehidupan harian yang bertujuan supaya soalan menjadi lebih hidup dan mudah difahami oleh calon-calon peperiksaan. Beliau juga menyarankan agar mengurangkan soalan berbentuk pengalaman dimakmal. Berdasarkan kepada teori dan pelaksanaan dalam P&P, contoh dalam soalan peperiksaan dan saranan pakar rujuk maka tidak syak lagi perkara yang berkaiat dengan hands on dan pengalaman hidup seharian pelajar menjadi dasar asas dalam membina soalan peperiksaan. Oleh yang demikian para guru disarankan agar membiasa diri memberikan latihan yang banyak berkait dengan soalan yang berkait dengan kehidupan dan pengalaman murid-murid.

Cikgu JR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: